MAHKOTA DEWA

MAHKOTA DEWA
Inilah gambar dari Mahkota Dewa... Tanaman ini dipercaya banyak menyembuhkan penyakit... Nach... Apakah ada di antara teman-teman yang memilik data tentang pertumbuhannya? Adakah model matematika yang bisa kita kembangkan dari data-data itu? ... Kalau pun tidak... apakah mungkin kita bisa belajar matematika daripadanya?

Jumat, 27 Maret 2009

MEMBAGI LUAS SEGITIGA MENJADI DUA SAMA DENGAN GARIS TEGAK LURUS ALAS

Teman-teman sekalian yang penulis cintai...

Seminggu yang lalu penulis diberi suatu soal yang menurut penulis sangat memenuhi ciri masalah. Ia menarik untuk dipecahkan, tetapi tidak terlihat dengan segera bagaimana memecahkannya.

Berhari-hari penulis dan juga teman-teman mencoba memecahkan masalah tersebut, namun tak satupun juga mampu memecahkannya. Sampai suatu ketika, seorang dosen yang sudah purna, Bp. Drs. Suwito, datang dan memberikan alternatif jawabannya kepada kami.

Kamipun terkesan dengan jawaban beliau. Oleh karena itu, penulis ingin berbagi dengan teman-teman bagaimana beliau memikirkan dan menjawab permasalahan ini. Penulis menyediakan tulisan yang memuat pemikiran beliau tersebut untuk di unduh di sini. Semoga dengan itu, teman-teman sekalian memperoleh manfaat.

Namun demikian, di dalam tulisan tersebut, penulis juga mengemukakan pemikiran tentang rendahnya mutu pendidikan kita. Penulis ingin mendapatkan masukan dari teman-teman pembaca sekalian bagaimana meningkatkan mutu pendidikan matematika di Indonesia ini ke depan. Tentunya, penulis ingin upaya yang tidak berbasis proyek semata. Adakah teman-teman yang berkenan untuk memberikan ide?

Semoga bermanfaat.

Rabu, 18 Maret 2009

PECAHAN BASIC

Pecahan basic merupakan salah satu bentuk pecahan sederhana. Pecahan basic adalah pecahan yang pembilangnya lebih kecil dari penyebutnya. Di tempat kita, di Indonesia, pecahan basic ini seringkali disebut dengan "pecahan sempurna"?

Karena itu, pecahan basic ini tidak pernah berpenyebut 1.

Nach... beberapa waktu yang lalu ada suatu masalah yang mempertanyakan tentang jumlah dari pecahan basic dimana penyebutnya mulai dari 2 sampai dengan 100.

Menurut hemat penulis, soal itu cukup menarik untuk disajikan kepada para murid. Bahkan penulis pun tertarik serta tertantang untuk memecahkannya. Bukankah ini suatu syarat dari suatu soal bisa disebut masalah?

Penulis pun kemudian mengerjakan soal tersebut.

Setelah mencoba menggunakan strategi mendaftar anggota-anggotanya, penulis melihat bahwa masalah ini merupakan masalah penjumlahan barisan bilangan. Penulis pun berhasil menemukan jawabannya yaitu sebesar 2475. Akan tetapi, penulis ingin para pengunjung blog ini memberikan masukan tentang benar tidaknya proses berpikir yang telah penulis lakukan.

Untuk itu, penulis ingin menyampaikan jawaban penulis tersebut di dalam blog ini. Silahkan diunduh di sini, dan seperti dikemukakan di atas, tolong agar proses dan hasilnya ini dikaji secara cermat. Semoga bermanfaat.

Salam

Minggu, 08 Maret 2009

KEGIATAN MGMP YANG MENARIK

MGMP merupakan salah satu wadah peningkatan profesional yang penting bagi para guru. Pemerintah telah berusaha mendorong agar MGMP bisa berdaya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Tetapi, kenyataan menunjukkan betapa MGMP tidak begitu disukai oleh para guru. Menghadiri MGMP belum merupakan kebutuhan bagi para guru.

Menurut hemat penulis, hal ini terjadi karena kegiatan MGMP belum memenuhi kebutuhan para guru. Kegiatan MGMP belum memberikan solusi bagi kegalauan dan kesulitan yang dihadapi para guru. Selama ini, kegiatan di MGMP belum mencerminkan huruf M pertama yang mengawali kata MGMP. Kegiatan MGMP tidak diisi dengan musyawarah.

Beberapa hari yang lalu, ketika ada pelatihan pelatih nasional untuk program DBE 3, penulis sempat mempraktikkan ide penulis tentang kegiatan praktis MGMP. Meskipun hanya berjalan sekitar setengah jam, peserta merasakan bahwa kalau kegiatan MGMP berlangsung seperti itu, peserta akan merasakan pentingnya hadir dalam kegiatan MGMP.

Apa yang terjadi?

Penulis membagi peserta ke dalam 3 kelompok. Masing-masing kelompok dianggap sebagai forum MGMP.

Pada kelompok pertama, dibicarakan tentang rencana pembelajaran. Skenarionya adalah sebagai berikut: (a) diskusi tentang ciri-ciri RPP yang baik ditinjau dari kontribusinya terhadap pengembangan potensi anak, bukan ditinjau dari sisi administrasi, (b) membahas baik tidaknya suatu contoh RPP yang dikembangkan oleh guru dari luar negeri, (c) mendiskusikan hal-hal yang perlu dilakukan agar RPP tersebut menjadi lebih baik.

Pada kelompok kedua, dibicarakan tentang tugas yang menarik dan menantang. Skenarionya adalah sebagai berikut: (a) peserta diberi tugas menantang dan diminta untuk menyelesaikannya, (b) mendiskusikan kekuatan dan potensi dari tugas menantang tersebut kalau diterapkan di dalam kelas, (c) menyusun tugas menantang. Karena waktu, musyawarah di kelompok ini dihentikan hanya sampai di situ.

Pada kelompok ketiga, dibicarakan tentang penilaian terhadap hasil karya anak. Peserta diberikan tiga contoh tugas anak, dan diminta untuk menilainya atau memberikan skor. Selanjutnya, tiga tugas itu dipertukarkan dan peserta diminta kembali untuk menilainya. Demikian seterusnya sehingga tiga putaran terselenggara. Selanjutnya, peserta diminta untuk menilai objektif tidaknya penilaian yang diberikan. Setelah dibicarakan tentang pentingnya rubrik, peserta kemudian diberi rubrik dan diminta untuk menggunakan rubrik tersebut untuk melakukan penilaian kembali terhadap hasil karya tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan rubrik membantu hasil penilaian yang lebih adil. Sayang, kegiatan tidak bisa dilanjutkan dengan mengembangkan rubrik.

Sebenarnya kegiatan-kegiatan tersebut masih bisa dilanjutkan. Para peserta bisa diminta untuk menyusun sendiri RPP, Soal Menantang, atau Rubrik. Setelah menerapkan di kelas, mereka bisa kembali ke forum MGMP dan mendiskusikan proses dan hasil penerapannya, dan merevisinya.

Penulis sempat membuat power point untuk jenis kegiatan MGMP matematika yang bisa dilakukan. Kalau teman-teman sekalian tertarik, penulis mempersilahkan untuk mengunduhnya di sini. Semoga bermanfaat.


Salam

Jumat, 06 Maret 2009

COOPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Kemarin penulis memperoleh email dari teman di Kesamben. Beliau meminta dikirimi file tentang "Pembelajaran Matematika dengan Cooperative Learning", dan "Pembelajaran Matematika Inovatif". File tentang Pembelajaran Matematika Inovatif sudah saya upload, dan sekarang tiba gilirannya file Pembelajaran Matematika dengan Cooperative Learning.

Makalah tentang Pembelajaran Matematika dengan Cooperative Learning ini penulis sajikan dalam acara seminar dan lokakarya (semiloka) di Universitas Negeri Lampung. Pada saat itu penulis diundang untuk menjadi nara sumber. Tapi perlu diingat, bahwa tulisan ini dibuat enam tahun yang lalu, yaitu tahun 2003. Sudah cukup lama.

Makalah ini sebenarnya juga hanya memberikan informasi tentang definisi cooperative learning, syarat terjadinya cooperative learning, dan macam-macam cooperative learning yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran matematika. Isinya pun lebih banyak teori, belum memberikan inspirasi pelaksanaan praktisnya di kelas.

Anyway,

Sejak hari minggu hingga hari kamis kemarin (1 s/d 4 Maret 2009), penulis bersama-sama dengan tim konsultan lainnya, diminta untuk membantu proyek DBE3 dari USAID untuk melaksanakan pelatihan pelatih nasional yang akan melatih di tingkat propinsi. Salah satu topik yang dibahas adalah pembelajaran kooperatif atau cooperative learning.

Penulis melihat bahwa teman-teman guru yang ikut dalam pelatihan ini terlalu patuh dengan salah satu syarat pembelajaran kooperatif, heterogenitas anggota kelompok. Akibatnya, ketika merasakan bahwa di tempat praktik mengajar yang ditetapkan mereka belum mengetahui banyak tentang murid-muridnya, teman-teman guru ini ragu dan tidak berani dengan leluasa menerapkan pembelajaran kooperatif. Teman-teman tidak berani mencobakan dan melihat dampaknya. Seakan-akan, sesuatu yang sudah menjadi teori harus selalu diikuti karena selalu cocok dengan realita. Ach... sayang.

Menurut penulis, syarat heterogen semacam itu tidak perlu diambil pusing dalam pertemuan pertama. Yang paling penting adalah bahwa kita harus selalu merefleksikan apa yang sudah terjadi. Bukan heteroginitasnya yang paling penting. The most important thing adalah bagaimana membuat siswa-siswa dalam satu kelompok mau bekerja sama, bahu membahu memecahkan permasalahan atau tugas mereka demi kesuksesan bersama.

Kalau kita memang belum kenal kondisi siswa yang akan dihadapi, heteroginitas kelompok hendaknya jangan terlalu dirisaukan. Kelompokkan saja, dan lakukan pengamatan. Selanjutnya, lakukan reviu dan refleksi agar pada pertemuan atau sesi berikutnya kita sebagai guru sudah bisa mengelompokkan secara lebih baik dan lebih sesuai dengan persyaratannya. Kalau kita tidak berani mencoba, tidak akan pernah ada kemajuan. Mencoba dan salah adalah cikal bakal inovasi. Yang penting, cobakan saja dan lakukan selalu praktik reflektif. InsyaALLAH akan ada kemajuan.

Nachh... kalau teman-teman masih berkeinginan untuk melihat tulisan tersebut, saya persilahkan teman-teman untuk mengunduhnya di sini. Walaupun sudah cukup lama dan sederhana, semoga tulisan tersebut memberikan manfaat bagi kita semua.

Salam

MENGINOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Dua tahun yang lalu, tepatnya tanggal 15 & 16 Maret 2007, penulis diundang oleh teman-teman di PPPG Matematika (sekarang P4TK Matematika) untuk menyajikan pemikiran dalam seminar dan lokakarya Pembelajaran Matematika. Topik yang diserahkan kepada penulis adalah Pembelajaran Matematika Inovatif.

Semula penulis mencoba untuk memberikan contoh pembelajaran matematika inovatif. Tetapi mengingat mengingat forum seminar tersebut luar biasa, dalam artian minimal semua widya iswara matematika dari semua LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) di seluruh Indonesia akan hadir, penulis merasa sangat sayang kalau kesempatan yang baik tersebut hanya sekedar menyajikan kumpulan model-model pembelajaran matematika inovatif yang kecil-kecil.

Oleh karena itu, pada kesempatan tersebut penulis membicarakan point-point penting dari pembelajaran matematika yang mempunyai peluang untuk meningkatkan capaian matematika siswanya dan juga sesuai dengan kebutuhan hidup manusia di abad ke-21. Penulis tidak menyajikan satu bentuk pembelajaran matematika inovatif yang paling bagus dan paling layak disebarluaskan di semua LPMP di seluruh wilayah nusantara.

Penulis mengupas tentang CTL, RME, PAKEM serta pembelajaran inovatif lainnya dengan menggunakan senjata: Tujuan Belajar, Dimensi Belajar, Kemahiran Matematika,taksonomi Bloom yang baru, serta perbandingan kurikulum negara maju dengan negara yang sedang atau kurang berkembang. Penulis mengambil kesimpulan bahwa yang lebih penting bukanlah menciptakan inovasi pembelajaran, melainkan menjalankan pembelajaran-pembelajaran yang sudah ada secara optimal.

Kalau ada di antara teman-teman yang berkenan untuk membaca dan mengkaji buah pikiran penulis, makalah yang disampaikan penulis dalam forum itu sekarang tersedia di dalam blog ini. Teman-teman bisa mengunduhnya di sini. Semoga bermanfaat.

Salam

Rabu, 04 Maret 2009

SUDUT DAN BANGUN DATAR

Pada tahun 2006, IndoMS bekerjasama dengan Sekolah Tara Salvia mengadakan kegiatan workshop dan seminar dengan tajuk "Adventure in Math". Penulis diundang menjadi salah satu pembicara, dan topik yang harus disajikan adalah "Sudut dan Bangun Datar".

Pada tahap awal, penulis menyajikan beberapa kasus aktivitas pembelajaran matematika yang dirancang oleh guru. Penulis, selanjutnya, meminta kepada para peserta seminar dan workshop untuk mendiskusikan kualitas dari aktivitas pembelajaran tersebut dan merancang ide perbaikan yang mungkin dilakukan.

Setelah aktivitas seperti itu, penulis selanjutnya mengajak para peserta untuk mengkaji secara lebih tajam apa yang dimaksud dengan "kompeten dalam matematika". Penulis membagi kompeten dalam matematika ke dalam empat level, yaitu: understanding competence, dealing with competence, utilization competence, dan development competence.

Di dalam kegiatan workshopnya, penulis selanjutnya meminta para peserta untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk kegiatan belajar dalam rangka membantu para siswa memiliki kompetensi matematika, terutama understanding, dealing with, dan utilization competence.

Penulis membuat power point tentang hal itu. Kalau ada di antara teman-teman yang tertarik mengkajinya, silahkan di unduh di sini. Semoga bermanfaat.

Salam

ICT DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Bulan yang lalu, penulis diundang oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur. Penulis diminta untuk menjadi pembicara dalam seminar nasional tersebut. Rencana semula, seminar akan diadakan pada tanggal 14 Februari. Akan tetapi, karena sesuatu dan lain hal, acara ditunda tanggal 21 Februari 2009.

Penulis sebenarnya sudah mempersiapkan diri. Penulis sudah menyusun dan mengirimkan makalah yang rencananya akan penulis sajikan dalam seminar tersebut. Akan tetapi, karena acaranya ditunda, dan pada tanggal penundaan itu penulis sudah ada janji dengan teman-teman MGMP Wilayah Madiun, Ngawi, Ponorogo, Magetan, dan Pacitan untuk bersama-sama belajar tentang pembelajaran matematika dalam bahasa Inggris, maka penulis pun akhirnya memutuskan untuk tidak bisa menghadiri acara seminar tersebut.

Panitia meminta pendapat penulis tentang pengganti pembicara. Penulis menawarkan dua nama, yaitu Drs. Agus Suhastono, M.Pd dari Universitas Mulawarman, dan Dr. Cholis Sa'dijah, M.Pd, M.A. dari Universitas Negeri Malang. Dua-duanya adalah teman penulis. Panitia akhirnya berhasil meminta bu Cholis untuk menjadi pembicara dalam seminar tersebut, dan makalah yang sudah penulis kembangkan pun ternyata masih dimanfaatkan juga oleh panitia dan Bu Cholis.

Karena itu, kalau di antara teman-teman ada yang berminat untuk melihat dan mengkaji makalah yang penulis kembangkan, saya mempersilahkan untuk diunduh di sini. Semoga bermanfaat.

Salam